INDONESIAN | ENGLISH

Mengapa JED? Pariwisata Massal di Bali
Di beberapa negara berkembang seperti Indonesia, banyak orang berpikir bahwa industri pariwisata yang berkembang pesat, merupakan satu hal yang menguntungkan. Seperti yang terjadi di pulau yang cantik, Bali. Memang, keuntungan bisa didapat dari pariwisata, tetapi kemudian Bali juga memiliki permasalahan yang serius:

EKONOMI
Pariwisata di Bali secara umum direncanakan oleh pemerintah Indonesia (yang terletak jauh dari Bali, yaitu di Jakarta) dan orang asing. Hanya sedikit orang Bali yang terlibat dalam perencanaan dan pengelolaan kepariwisataan di daerahnya. Justru, sebagian besar dari mereka hanya menjadi objek pariwisata! Seperti seekor macan di kebun binatang, mereka tidak mendapatkan banyak uang dari pengunjung, demikian halnya dengan orang Bali. Sebagian besar keuntungan dari pariwisata massal di Bali dinikmati oleh perusahaan pariwisata besar, sementara orang Bali menderita karena kerusakan lingkungan yang dialami.

LINGKUNGAN
Pulau Bali yang kecil sangat rapuh. Lahan yang terbatas berarti juga terbatasnya ketersediaan air bersih (salah satu di antara sumberdaya lainnya), disamping mengalami masalah rumit dengan pembuangan sampah. Permintaan akan kolam renang dan lapangan golf, penginapan di pinggir pantai, serta ruangan ber-AC menjadikan lingkungan alam Bali mengalami tekanan yang besar.

Air yang digunakan untuk 500 kamar hotel berbintang pada dasarnya bisa dipakai untuk mengairi 33 hektar lahan sawah. Jika dirata-rata, kamar hotel berbintang menghasilkan sepuluh kali sampah lebih banyak dari rumah tangga Bali. Ditambah lagi secara perlahan lahan sawah di Bali Selatan berubah menjadi bangunan yang sebagian difungsikan untuk villa, penginapan, dan toko.

SOCIAL AND CULTURAL
Kebudayaan Bali sering kehilangan maknanya. Kesakralan beberapa ritual dan tarian diprofankan untuk konsumsi wisatawan. Upacara keagamaan, seperti Ngaben, sering dilakukan secara besar-besaran supaya tampak megah di hadapan orang luar. Pembangunan untuk pariwisata telah berhasil mengalahkan filosofi adat Bali. Orang Bali yang bekerja untuk pariwisata lebih mementingkan pekerjaannya dibanding kegiatan adat dan sosial di banjar. Selain itu, kehidupan sebagian orang Bali tidak bisa dilepaskan dari budaya ‘metropolis’: pub, obat terlarang, dan pergaulan bebas.

JED - PARIWISATA BALI UNTUK ORANG BALI
Jaringan Ekowisata Desa (JED) diresmikan tahun 2002, sebagai jawaban terhadap permasalahan pariwisata massal di Bali. Jaringan ini direncanakan dan dimiliki oleh sekelompok masyarakat empat desa di Bali, yaitu Banjar Kiadan di Desa Pelaga, Banjar Dukuh di Desa Sibetan, sekelompok orang di Desa Adat Tenganan Pegringsingan dan di Nusa Ceningan (lihat peta), bekerja sama dengan Yayasan Wisnu, salah satu LSM lingkungan tertua di Bali.

JED merupakan satu bentuk komitmen dari keempat kelompok masyarakat yang ingin menentukan masa depan dirinya sendiri, budaya dan lingkungan mereka. Dengan mengundang orang luar untuk datang ke desa, mereka bukan saja bisa mendapatkan keuntungan untuk aktivitas budaya dan pelestarian lingkungan, melainkan juga untuk meningkatkan harga diri mereka terhadap potensi yang dimiliki. Hal ini merupakan satu peluang bagi masyarakat desa untuk bisa membagi kebanggaan diri mereka kepada pengunjung, dan menceritakan Bali seperti yang mereka tahu dan lakukan. Hal lain yang bisa diperoleh pengunjung adalah kesempatan unik melakukan perjalanan untuk menyatu dengan kehidupan desa dan melihat seperti apa Bali sesungguhnya …

PRINSIP JED:
  • Perencanaan dan pengelolaan program JED dilakukan oleh sekelompok masyarakat di masing-masing desa.
  • Keuntungan yang diperoleh JED digunakan untuk kegiatan sosial, budaya, dan lingkungan masyarakat.
  • JED ditujukan untuk memperkuat kerjasama antardesa secara transparan dan demokratis
  • Perjalanan JED didesain untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan lokal
  • JED difungsikan sebagai jembatan pemahaman silang budaya dengan cara memfasilitasi diskusi antara masyarakat lokal Bali dengan pengunjung

PENDUKUNG JED
Jaringan Ekowisata Indonesia
Rufford Small Grants for Conservation

 
 

 
Other JED trips | Booking information | Background to JED | Tips for travelers | Link & further reading | site map | contact